Hati-hati, bekerja di rumah bisa bikin lupa waktu
Kamis, 03 Desember 2009Sudah lebih dari satu setengah tahun ini dia bekerja secara freelance di rumah. Mengerjakan pembukuan keuangan milik beberapa perusahaan berskala kecil yang beroperasi di daerahnya. Perusahaan-perusahaan ini lebih suka menggunakan jasa seorang freelance seperti teman saya itu untuk mengerjakan beberapa laporan keuangan, dari pada merekrut satu atau dua orang karyawan untuk melakukan pekerjaan itu. Biaya operasional perusahaan menjadi lebih murah. Beberapa pekerjaan administrasi cukup dibayar berdasarkan volume dan jenisnya sesuai kesepakatan.
Teman saya itu, sangat menyukai profesinya yang sekarang ini. Cukup mengerjakan order di rumahnya, jam kerja bisa dia atur sendiri, yang penting pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Setelah selesai, dia memberikan hasil laporan yang dipesan kepada pengorder, lalu terima pembayaran. Selesai. Kemudian mengerjakan lagi order laporan keuangan milik perusahaan yang lainnya.
Memang menyenangkan berprofesi freelance seperti itu. Orang jadi punya banyak waktu di rumah. Tapi, kalau kita tidak cermat menanganinya, malah bisa menjadi sebaliknya. Seperti yang dialami teman saya itu. Dunia waktu jadi terbalik. Siang jadi malam, malam jadi siang. Sekarang dia hanya bisa tidur selama tiga jam sehari. Bukan karena sudah tidak ada waktu, tapi lebih tepat jika dikatakan bahwa jam biologisnya sudah terganggu. Bagaimana itu bisa terjadi?
Ketika kita merasa bisa mengatur jam kerja sendiri, tanpa sadar kita sering menjadi salah kaprah. Kita menjadi tidak mau lagi mengikuti pola jam kerja seorang karyawan. Itu terlalu konvensional, menurut kita. Jika seorang karyawan biasanya bekerja antara jam 7 atau 8 pagi hingga sore hari (jam 4 atau jam 5 sore), kita malah menggunakan jam-jam itu untuk keperluan yang lain. Misalnya membantu pekerjaan di rumah, mengurus anak, dan sebagainya. Setelah itu semua selesai, baru kita mulai menggarap pekerjaan kita. Biasanya setelah menjelang malam. Apa lagi jika kita menangani pekerjaan yang lebih banyak diselesaikan dengan menggunakan komputer yang tentu saja tidak menimbulkan suara berisik.
Mungkin karena sedang banjir order atau karena ingin segera menyelesaikan order, kita jadi terlalu asyik bekerja. Sering kali hingga larut malam, bahkan tidak tidur sama sekali. Pola jam kerja seperti ini menjadi terus berulang hingga menjadi berlarut. Kita memperlakukan malam hari sebagai waktu untuk bekerja. Orang bilang jadi mirip kalong, pada hal sama sekali tidak mirip. Binatang kalong akan tidur dari pagi hingga menjelang senja, lalu mencari makan pada malam hari. Tapi kita, bekerja pada malam hari dan tidak tidur pada siang harinya. Kalau pun bisa tidur, mungkin hanya bisa dalam beberapa jam saja. Misalnya tidur hanya dalam tiga jam sehari seperti si Novi itu.
Saya jadi berfikir bahwa kebebasan mengatur jam kerja seperti itu hanya menjadi sebuah hiburan semu. Menjadi sama sekali tidak menyenangkan, apa lagi menyehatkan. Seperti menjadi sebuah boomerang bagi diri kita sendiri.
Bertolak dari kenyataan yang dialami teman saya itu, mungkin bisa menjadi pelajaran bagi para calon freelancer yang lain, kebebasan mengatur jam kerja sendiri bukan berarti kita bisa mengatur pola jam kerja dengan semaunya. Sebaiknya tetap menggunakan pola jam kerja konvensional seperti yang dilakukan oleh para karyawan perusahaan. Toh kita masih tetap berada di rumah dan bisa meluangkan waktu untuk keluarga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Yang penting kita tetap memprioritaskan pekerjaan, tapi tidak juga menomor duakan waktu untuk keluarga, semua akan menjadi baik-baik saja. Kita tetap selalu punya waktu untuk keluarga karena kita bisa menunda pekerjaan kita untuk sementara waktu kapan saja.
Ketika kita merasa bisa mengatur jam kerja sendiri, tanpa sadar kita sering menjadi salah kaprah. Kita menjadi tidak mau lagi mengikuti pola jam kerja seorang karyawan. Itu terlalu konvensional, menurut kita. Jika seorang karyawan biasanya bekerja antara jam 7 atau 8 pagi hingga sore hari (jam 4 atau jam 5 sore), kita malah menggunakan jam-jam itu untuk keperluan yang lain. Misalnya membantu pekerjaan di rumah, mengurus anak, dan sebagainya. Setelah itu semua selesai, baru kita mulai menggarap pekerjaan kita. Biasanya setelah menjelang malam. Apa lagi jika kita menangani pekerjaan yang lebih banyak diselesaikan dengan menggunakan komputer yang tentu saja tidak menimbulkan suara berisik.
Mungkin karena sedang banjir order atau karena ingin segera menyelesaikan order, kita jadi terlalu asyik bekerja. Sering kali hingga larut malam, bahkan tidak tidur sama sekali. Pola jam kerja seperti ini menjadi terus berulang hingga menjadi berlarut. Kita memperlakukan malam hari sebagai waktu untuk bekerja. Orang bilang jadi mirip kalong, pada hal sama sekali tidak mirip. Binatang kalong akan tidur dari pagi hingga menjelang senja, lalu mencari makan pada malam hari. Tapi kita, bekerja pada malam hari dan tidak tidur pada siang harinya. Kalau pun bisa tidur, mungkin hanya bisa dalam beberapa jam saja. Misalnya tidur hanya dalam tiga jam sehari seperti si Novi itu.
Saya jadi berfikir bahwa kebebasan mengatur jam kerja seperti itu hanya menjadi sebuah hiburan semu. Menjadi sama sekali tidak menyenangkan, apa lagi menyehatkan. Seperti menjadi sebuah boomerang bagi diri kita sendiri.
Bertolak dari kenyataan yang dialami teman saya itu, mungkin bisa menjadi pelajaran bagi para calon freelancer yang lain, kebebasan mengatur jam kerja sendiri bukan berarti kita bisa mengatur pola jam kerja dengan semaunya. Sebaiknya tetap menggunakan pola jam kerja konvensional seperti yang dilakukan oleh para karyawan perusahaan. Toh kita masih tetap berada di rumah dan bisa meluangkan waktu untuk keluarga jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Yang penting kita tetap memprioritaskan pekerjaan, tapi tidak juga menomor duakan waktu untuk keluarga, semua akan menjadi baik-baik saja. Kita tetap selalu punya waktu untuk keluarga karena kita bisa menunda pekerjaan kita untuk sementara waktu kapan saja.
Label: CATATAN
Share
BISNIS KEAGENAN TIKET PESAWAT ONLINE
Mau booking tiket pesawat sekaligus menjadi agen penjualan tiket pesawat secara online, murah, mudah, dan cepat? untuk mendapatkan informasi selengkapnya.
Wallpaper foto kapal laut :
| Berlangganan artikel melalui Feed Reader |
Judul Posting: Hati-hati, bekerja di rumah bisa bikin lupa waktu
Alamat URL: http://www.garisline.com/2009/12/hati-hati-bekerja-di-rumah-bisa-bikin.html

0 Komentar pada posting "Hati-hati, bekerja di rumah bisa bikin lupa waktu"
Poskan Komentar
Berlangganan Poskan Komentar [Atom]
Link ke posting ini:
Buat sebuah Link
<< Beranda