Waspadai bahaya pada kebiasaan berdebat
Kamis, 03 Desember 2009Perilaku demikian adalah ciri khas Bani Israil (Yahudi) seperti diabadikan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 67 - 74. Ketika itu mereka diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Tetapi mereka sengaja mempermainkan Nabi dan mempersulit diri mereka sendiri dengan pertanyaan yang dibuat-buat. Lainnya halnya dengan pertanyaan (diskusi) yang dimaksudkan sebagai proses belajar-mengajar. Hal itu justru menjadi keharusan asal adabnya tetap dijaga.
Allah berfirman, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (An-Nahl:43).
Atau juga dalam rangka dakwah yang dalam Al-Qur’an disebut dengan mujadalah. Diskusi yang didasari oleh semangat kasih sayang dan kebenaran ini justru diperintahkan oleh Allah. "Wajaadilhum billatii hiyaahsan." Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik ( An-Nahl:125).
Contoh debat yang tidak membawa faedah misalnya adalah pembahasan yang "liar" tentang hal-hal yang ghaib misalnya Allah,hari kiamat, ruh, masalah hidup ummat manusia dan hal-hal lain yang hanya dapat diketahui lewat dalil naqli saja. Pertanyaan-pertanyaan itu bila difahami secara mendalam hanya akan semakin membingungkan dan menambah keraguan sehingga bisa berakhir pada kesesatan.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Umat manusia itu akan selalu bertanya-tanya sehingga nanti dikatakan ini adalah yang telah menciptakan semua makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?"
Kebiasaan berdebat adalah penyakit. Untuk mengobatinya harus ditempuh sejumlah solusi.
Pertama, memenuhi kalbu dengan ma’rifat, tauhid dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan cara ini seseorang akan selalu bersikap dan berucap dengan niat dan metode ilahiyyah. Apa yang dilakukannya dalam diskusi tidak diorientasikan untuk mencari kemenangan, tapi kebenaran. Sehingga ia akan meninggalkan ego pribadinya serta menjauhi sikap kibr(sombong,takabbur) dan merendahkan orang lain.
Kedua, senantiasa memelihara adab Islami dalam berbicara, mengkritik, bertanya dan menyampaikan pendapat. Antara lain, dengan cara yang bijaksana, hormat, lembut dan lain-lain. Dengan begitu, lawan bicara akan merasa dihargai sehingga terjadi komunikasi yang indah dan bermanfaat, jauh dari egoisme dan semangat saling mengalahkan.
Ketiga, menghayati akibat buruk yang timbul dari kebiasaan berdebat. Antara lain tidak mendorong orang untuk beramal, tapi hanya memperbanyak bicara. Umar bin Kathab berkata, "Banyak bicara maka banyak bias, banyak bias berarti banyak dosa dan banyak dosa berarti masuk neraka."
Keempat, belajar bersikap jantan dan obyektif dalam menerima kebenaran dari orang lain.
Kelima, mengobati hati dari penyakit ujub, ghurur dan takabbur.
Keenam, berusaha bergaul dengan komunitas (jama’ah) yang jauh dari kultur debat dan cuma banyak bicara. Dengan menghindari diri dari debat setiap muslim akan menjadi mulia, baik di sisi manusia dan Allah. Terlebih, Allah juga akan menjadikannya sebagai ahli surga seperti sabda beliau yang diriwayatkan Abu Dawud, "Aku adalah pemimpin rumah di bawah naungan syurga bagi orang yang meninggalkan miraa (upaya menyangkal perkataan seseorang dengan mengungkapkan kerancuan dalam perkataan tersebut, baik dari sisi lafazh maupun maknanya)."
Contoh debat yang tidak membawa faedah misalnya adalah pembahasan yang "liar" tentang hal-hal yang ghaib misalnya Allah,hari kiamat, ruh, masalah hidup ummat manusia dan hal-hal lain yang hanya dapat diketahui lewat dalil naqli saja. Pertanyaan-pertanyaan itu bila difahami secara mendalam hanya akan semakin membingungkan dan menambah keraguan sehingga bisa berakhir pada kesesatan.
Telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Umat manusia itu akan selalu bertanya-tanya sehingga nanti dikatakan ini adalah yang telah menciptakan semua makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?"
Kebiasaan berdebat adalah penyakit. Untuk mengobatinya harus ditempuh sejumlah solusi.
Pertama, memenuhi kalbu dengan ma’rifat, tauhid dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan cara ini seseorang akan selalu bersikap dan berucap dengan niat dan metode ilahiyyah. Apa yang dilakukannya dalam diskusi tidak diorientasikan untuk mencari kemenangan, tapi kebenaran. Sehingga ia akan meninggalkan ego pribadinya serta menjauhi sikap kibr(sombong,takabbur) dan merendahkan orang lain.
Kedua, senantiasa memelihara adab Islami dalam berbicara, mengkritik, bertanya dan menyampaikan pendapat. Antara lain, dengan cara yang bijaksana, hormat, lembut dan lain-lain. Dengan begitu, lawan bicara akan merasa dihargai sehingga terjadi komunikasi yang indah dan bermanfaat, jauh dari egoisme dan semangat saling mengalahkan.
Ketiga, menghayati akibat buruk yang timbul dari kebiasaan berdebat. Antara lain tidak mendorong orang untuk beramal, tapi hanya memperbanyak bicara. Umar bin Kathab berkata, "Banyak bicara maka banyak bias, banyak bias berarti banyak dosa dan banyak dosa berarti masuk neraka."
Keempat, belajar bersikap jantan dan obyektif dalam menerima kebenaran dari orang lain.
Kelima, mengobati hati dari penyakit ujub, ghurur dan takabbur.
Keenam, berusaha bergaul dengan komunitas (jama’ah) yang jauh dari kultur debat dan cuma banyak bicara. Dengan menghindari diri dari debat setiap muslim akan menjadi mulia, baik di sisi manusia dan Allah. Terlebih, Allah juga akan menjadikannya sebagai ahli surga seperti sabda beliau yang diriwayatkan Abu Dawud, "Aku adalah pemimpin rumah di bawah naungan syurga bagi orang yang meninggalkan miraa (upaya menyangkal perkataan seseorang dengan mengungkapkan kerancuan dalam perkataan tersebut, baik dari sisi lafazh maupun maknanya)."
Label: CATATAN
Share
BISNIS KEAGENAN TIKET PESAWAT ONLINE
Mau booking tiket pesawat sekaligus menjadi agen penjualan tiket pesawat secara online, murah, mudah, dan cepat? untuk mendapatkan informasi selengkapnya.
Wallpaper foto kapal laut :
| Berlangganan artikel melalui Feed Reader |
Judul Posting: Waspadai bahaya pada kebiasaan berdebat
Alamat URL: http://www.garisline.com/2009/12/waspadai-bahaya-pada-kebiasaan-berdebat.html

0 Komentar pada posting "Waspadai bahaya pada kebiasaan berdebat"
Poskan Komentar
Berlangganan Poskan Komentar [Atom]
Link ke posting ini:
Buat sebuah Link
<< Beranda